Minggu, 11 Mei 2014

Wasiat Nabi saw kepada Para Pemuda dalam hal Adab


Nabi saw menyampaikan banyak wasiat kepada para pemuda, diantaranya sebagai berikut:
1.    Jangan berteman kecuali dengan seorang mukmin
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudzri ra, ia mendengar Rasululloh saw bersabda:
لَا تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ
“Jangan berteman kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan ada yang memakan makananmu kecuali seorang bertaqwa” (HR. Abu Daud).
Abu Musa Al Asy’ari ra, dari Nabi saw Beliau bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَاْلَجلِيْسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ اْلِمسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ, فَحَامِلِ اْلِمسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيْكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ, وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً, وَنَافِخِ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk laksana pembawa minyak wangi dan pande besi. Pembawa minyak wangi bisa jadi akan memberimu wewangian, atau kamu membeli wewangian darinya, atau kamu mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pande besi, bisa jadi ia akan membakar bajumu atau kamu mendapatkan aroma tidak sedap darinya” (HR Bukhari).
Diriwayatkan dari Abu Hurairoh ra, ia berkata, Rasululloh saw bersabda:
اْلمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ, فَلْيَنْظُرْ أَحَدَكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu terbawa agama teman karibnya, maka hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman”.
Iamam  Al Ghozali menyebutkan beberapa syarat seorang teman, ia berkata : ”Seyogyanya orang yang kamu pilih untuk menjadi teman memiliki lima sifat berikuty:
1.      seorang yang berakal,
2.       baik akhlaknya,
3.       tidak fasik,
4.       bukan pelaku bid’ah, dan
5.      tidak ambisi thd dunia”.
2.    Perbaguslah akhlakmu terhadap manusia.
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal ra, ia berkata “Wasiat terakhir yang disampaikan Rasululloh saw kepadaku adalah ketika  aku meletakkan kaki di pelana dari kulit, beliau bersabda “Baguskan akhlakmu terhadap manusia wahai Mu’adz bin Jabal”. (HR. Imam Malik).
Diriwayatkan dari Abdulloh bin Mas’ud ra, ia berkata: Rasululloh saw bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ وَ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيْبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ
”Bersediakah aku beritahukan kpd orang yang diharamkan dari api neraka dan orang yang mana neraka haram baginya? Yaitu setiap orang yang dekat (dengan orang-orang), lembut perangai dan bermudah-mudah” (HR Tirmidzi).

3.    Jagalah lidahmu, (ini tidak hanya dalam percakapan lisani saja, namun juga dalam berbagai media seperti berbicara lewat media social).
Rasululloh saw berwasiat sejumlah amalan kepada pemuda Mu’adz bin Jabal ra, beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan kepadamu penghimpun semua itu? Mu’adz berkata “Ya”. Beliau memegang lidahnya  dan bersabda “Jagalah ini atas dirimu”. Mu’adz berkata “Wahai Nabi Alloh, akankah kita dihukum atas apa yang kita ucapkan?” Beliau bersabda, “Celaka engkau wahai Mu’adz, tidaklah orang-orang ditelungkupkan wajah mereka ke neraka kecuali akibat lidah mereka”. (HR. Ibnu Majah).
4.    Jangan melanjutkan pandangan dengan pandangan yang lain
Diriwayatkan dari Buraidah, dari ayahnya, dari nabi saw, beliau bersabda:
يَا عَلِىٌّ لَا تُتْبِعُ النَّظْرَةِ النَّظْرَةِ, فَإِنَّ لَكَ الْأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْأَخِرَةُ
“Wahai Ali, jangan melanjutkan pandangan (tertuju pada perempuan bukan mahrom) dengan pandangan  (yang lain), sebab yang menjadi hakmu adalah pandangan pertama, dan kamu tidak berhak atas pandangan yang akhir” (HR. Tirmidzi).
Diriwayatkan dari Jarir bin Abdulloh ra, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rsululloh saw tentang padangan tiba-tiba (tertuju pada perempuan bukan mahrom), beliau menyuruhku untuk memalingkan pandanganku”.(HR. Muslim).
Imam Ibnul Qoyyim rh berkata, “Pandangan mata merupakan akar seluruh peristiwa yang menimpa manusia. Sebab, pandangan melahirkan lintasan, lintasan melahirkan pikiran, pikiran melahirkan syahwat, kemudian syahwat melahirkan kemauan, selanjutnya kemauan menguat dan menjadi tekad membaja, lalu terjadilah tindakan  yang merupakan keniscayaan, kecuali bila ada penghalang yang menghalanginya. Dalam hal ini ada ungkapan “Kesabaran dalam menundukkan pandangan lebih mudah daripada kesabaran menghadapi penderitaan yang (muncul) sesudahnya”.
5.    Memulai dari sebelah kanan
Rasululloh saw berwasiat kepada para pemuda agar memulai dan memakai dari sebelah kanan, dalam hal makan, minum, memakai alas kaki dan dalam segala urusan mereka, sebagaimana kebiasaan beliau saw.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwasanya Rasululloh saw bersabda:
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ, وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبُ بِيَمِيْنِهِ,فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ.
“Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila dia minum maka hendaklah ia minum dengan tangan kanannya. Sebab, setan itu makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya” (HR. Muslim).
6.    Angkatlah kain sarungmu
Peringatan untuk tidak isbal (memanjangkan pakaian lebih dari mata kaki) sangatlah penting bagi para pemuda, sebab mereka sering banggga  diri dan dikuasai oleh hawa nafsu dengan biasa memanjangkan pakaian (celana) melebihi mata kaki (bahkan sampai terinjak-injak).
Orang yang biasa berpakain isbal, diancam Rasululloh saw dengan mendapatkan siksa neraka jahanam, sebagaimana dalam hadis:
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِيْزَارِ فَفِى النَّارِ
“Kain yang berada di bawah mata kaki berada di dalam neraka” (HR. Bukhari).
Anjuran ini tidak berlaku bagi perempuan, sedang bagi perempuan dianjurkan sampai di bawah mata kaki dan boleh sampai menyentuh tanah. Karena apabila kain tersentuh tanah itu terkena najis, maka akan tersucikan oleh sapauan tanah yang berikutnya.

Dikutip dari Kitab “Pendidikan Anak Dalam Islam” Karya Syaikh Dr. Sa’id bin Muhammad bin Wahf Al Qohthani.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar